Tuesday, December 26, 2017

Cerita Dewasa Cewek ABG Jadi Sasaran Nafsu Tukang Becak


Riska adalah seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU negeri terkemuka di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun ini memiliki tubuh yang sekal dan padat, kulitnya kuning langsat. Rambutnya tergerai lurus sebahu, wajahnya juga lumayan cantik.
Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya adalah seorang pejabat yang kini bersama ibunya tengah bertugas di ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di berbagai kota di pulau jawa ini karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah Riska seorang diri di rumah tersebut, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri ternama di kota itu.
Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Riska sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.
Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Riska. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksi melintas di hadapannya.
Sosok pribadi Riska memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk kepada Parno yang sering mengantarkan Riska dari jalan besar menuju ke kediaman Riska yang masuk ke dalam gang.
Suatu sore, Riska pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan Parno memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Riska. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Riska nanti akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.
“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Riska.
“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Parno sambil terus mengayuh becaknya.
Dengan sedikit kesal Riska pun terpaksa mengikuti kemauan Parno yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Parno, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Parno membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.
“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Riska.
“Hujan..”, jawab Parno sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.
Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Riska menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.
“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Parno sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Riska yang masih duduk di dalam becak.
Bagai tersambar petir Riskapun kaget mendengar ucapan Parno tadi.
“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Riska sambil terbengong-bengong.
“Non cantik, kamu mau ini?” Parno tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar.
Riska terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.
“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Riska dengan wajah yang memucat.
Sejenak Parno menatap tubuh Riska yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Riska yang putih bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis itu. Dan di bagian atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih seragamnya yang berukuran ketat.
“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”, Riska mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno yang semakin mendekati tubuhnya.
Tubuh Riska mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah paha Riska, tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha Riska.
“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”, Riska meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Riska itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Riska.
Riska pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Riska. Tubuh Riska menggeliat ketika tangan-tangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal paha Riska, dan wajah Riska menyeringai ketika jari-jemari Parno mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.
“Iihh..”, pekikan Riska kembali menggema di ruangan itu di saat jari Parno ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.
Tubuh Riska menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Riska yang megap-megap dengan tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah Parno yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.
“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Riska. Saat ini lubang kemaluan Riska telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Parno.
Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Parno mencabut jarinya dari lubang kemaluan Riska. Riska nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno kemudian menarik tubuh Riska turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang sintal sementara Riska hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Parno juga menikmati wanginya tubuh Riska sambil terus meremas remas pantat gadis itu.
Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Riska yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.
“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Riska mendesah-desah di saat Parno melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Riska oleh gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher gadis itu.
“Oohh.. Eenngghh..”, Riska mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno.
Cengkeraman Parno di tubuh Riska cukup kuat sehingga membuat Riska sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat Riska pasrah di hadapan Parno yang tengah memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Parno meraih kepala Riska dan menekan tubuh Riska ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Parno kepala Riska dihadapkan pada penisnya.
“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Parno sambil menjambak rambut Riska.
Takut pada bentakan Parno, Riska tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Riska.
“Hmmphh..”, Riska mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Riska menggelembung karena batang kemaluan Parno yang menyumpalnya.
“Akhh..” sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Riska di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut Riska.
Riska menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno. Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram erat kepala Riska mulai menggerakkan kepala Riska maju mundur, mengocok penisnya dengan mulut Riska. Suara berdecak-decak dari liur Riska terdengar jelas diselingi batuk-batuk.
Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Riska, dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Riska semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut Riska. Wajah Parno menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..
“Aakkhh..”, Parno melengking, croot.. croott.. crroott..
Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Parno yang mengisi mulut Riska yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Riska berusaha melepaskan batang penis Parno dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Parno mencengkeram kuat kepala Riska. Sebagian besar sperma Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut Riska dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut Riska.
“Ahh”, sambil mendesah lega, Parno mencabut batang kemaluannya dari mulut Riska.
Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Riska. Demikian pula halnya dengan mulut Riska yang nampak basah oleh cairan yang sama. Riska meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga lemas dan shock setelah diperlakukan Parno seperti itu.
“Sudah Pak.. Sudahh..” Riska menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Parno yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Riska.
Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno membuat tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.
Parno kemudian memegang tubuh Riska yang masih menangis terisak-isak. Riska sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Riska bergetar ketika Parno menidurkan tubuh Riska di lantai gudang yang kotor itu, Riska yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Parno.
Setelah Riska terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu seragam SMU Riska hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Riska. Kedua mata Parno pun melotot tajam ke arah kemaluan Riska. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.
Parno langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Riska. Riska menjerit ketika Parno mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina Riska.
“Aakkhh..”, Riska menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya.
Kedua tangan Riska ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina Riska dengan kasar dan bersemangat.
“Aaiihh..”, Riska melengking keras di saat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang penis Parno. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan Riska.
“Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Parno mendesis nikmat.
Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Parno langsung menggenjot tubuh Riska dengan kasar.
“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Riska mengerang-ngerang kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Parno yang keras dan kasar. Sementara Parno yang tidak peduli terus menggenjot Riska dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan vagina Riska yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya.
Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Riska yang semakin kepayahan itu, sepertinya Parno sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Riska, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Parno pun berejakulasi.
“Aahh..” Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Riska yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi gerakan-gerakan Parno.
Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Parno. Parno puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi pandangannya dan menggoda dirinya.
Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Parno dengan becaknya kembali mengantarkan Riska yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Riska tak mampu lagi berjalan normal hingga Parno terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Parno dengan leluasa menuntun tubuh lemah Riska hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah berbisik ke telinga Riska bahwa dia berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya yang molek itu.
Parno pun kemudian meninggalkan Riska dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Riska yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya.

Saturday, December 23, 2017

Terpaksa Ngentot Dengan Janda Kaya Karena Menyelamatkan Ekonomi Setahuan Belakangan 




Selaras, meja kaca berukuran mini dipenuhi gantungan kunci, koleksi abadi nan memikat. Mencium lantai berkarpet merah tua, kokoh sepasang kursi unik berdesain oritental modern. Sepadan, deretan sepatu dan sandal tertutup kotak plastik transparan besar. Tak heran, kamar kost Jalan Pramuka Banjarmasin itu benar-benar nyaman.

Hanya saja, menjadikan kamar itu mengundang pertanyaan, lima photo terpampang menggambarkan Joned mesra dengan perempuan pantas disebut ibu di Pantai Sanur Bali. ”Itu Tante Vie (43) tinggal di Balikpapan, punya perusahaan cabang di Banjarmasin. Juga rumah spanish minimalis di Jalan Brigjend H Hasan Baseri,” ungkapnya saat saya temui di kamar kost.

Dikisahkan pria muda berbadan tinggi besar ini, sudah setahun dia jadi ‘simpanan’ perempuan kaya itu.Segala kebutuhan, dari motor, sewa kost, handphone hingga biaya kuliah dan uang saku,digaransi tante tampak cantik itu. ”Dua minggu sekali beliau datang, selain urusan bisnis juga menghabiskan beragam hal. Hemmmmz, soal libido. Hasrat untuk .... yah abang ngerti lah!” celoteh Joned.

Diceritakan Joned, awal pertemuan dengan Tante Vie dicomblangi perantara (kawan) di cofee shop hotel berbintang tiga, Jl Lambung Mangkurat. ”Aku diminta berpura-pura jadi pebisnis, ujungnya akrab,” ujarnya

Tiga kali bertemu, pembicaraan tak lagi sebatas bisnis, tapi curhat. Khususnya seputar rumah tangga Tante Vie yang bersuami warga keturunan kaya raya, dan bangkotan.”Kala itu aku memahami karakter Tante Vie yang terlihat 'haus' soal penuntasan kebutuhan bathin,” ujarnya mengerutkan dahi dengan mimik serius.

Suatu hari, selesai makan malam sambung Joned, dia diajak nyanyi di karaoke. Media singkat untuk keakraban itu berlanjut ke cafe menikmati suasana romantis. Berikut beranjak malam, Honda CRV dikemudikan Tante Vie bukan ke kost-kostan, aku Joned, namun berbelok ke sebuah hotel bintang empat Jalan Achmad Yani km 4,5. ”Di situlah ‘pertempuran’ pertama terjadi..Tante Vie mengaku merasakan sentuhan luar biasa,” ungkapnya menunduk mengutak-atik Blackberry Dakota.

Permulaan itu menjadi dasar kisah percintaan selanjutnya. Tak heran, Tante Vie seolah ketagihan, ujar Joned, terbukti jika sebelumnya sebulan sekali ke Banjarmasin. Sejak itu dua pekan. ”Aku larut, saking terpengaruhnya pacar setia, kuputus!” katanya, membuka kulkas mini di sudut kamar, membuka botol lalu mempersilakan menyeruput air mineral.

Ditambahkan Joned, keterikatan dengan Tante Vie makin hari makin menjadi. Tak heran Joned harus taat beragam aturan perempuan yang ‘menyelamatkan’ situasi ekonominya setahun belakangan ini. ”Aku tak bisa apa-apa kecuali memuaskan Tante Vie dengan konsekuensi finansial. Dan ini yang sebenarnya bertolak belakang hati nuraniku saat ini. Tetapi apa mau dikata?” tegasnya bernada pasrah .

Tiba-tiba HP Joned berbunyi. Sembari meminta sayas jeda, pria memiliki rahang kokoh itu beranjak ke meja belajar. ”Maaf bang dari dia,” ujarnya dengan mimik berubah.

Cerita Dewasa Ngentot Dengan Tetanggaku Membuat Istriku Jadi Horny 




Nia, 30 tahun adalah istri Andri 38 tahun. Seorang ibu rumah tangga yang sangat dalam bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Andri adalah seorang suami yang baik dan bertanggung jawab kepada keluarga. Apapun kekurangan dalam rumah tangga maka ia selalu berusaha untuk mencukupinya. Bisa dibilang, rumah tangga yang harmonis dan rukun. Anak mereka satu-satunya mengambil tempat sekolah di kota lain. Aku kost di lingkungan yang sama dengan mereka.

Pada waktu 7 Agustus 2010, mereka beserta warga lingkungan tempat tinggal mengadakan malam hiburan berupa organ tunggal sampai subuh. Kebetulan waktu itu adalah hari Sabtu malam minggu. Tua muda, laki-laki perempuan, semua ikut bergembira. Semua turun berjoget mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Mula-mula berjoget dengan pasangan masing-masing. Semua bergembira sambil tertawa lepas mengikuti irama musik. Menjelang subuh pada lagu terakhir, Nia berjoget dengan seorang pria, sedangkan Andri berjoget dengan Germen, seorang ibu rumah tangga yang tinggal satu tempat kost tapi berjarak beberapa pintu dari kamar mereka. Germen 31-an tahun adalah istri seorang karyawan swasta yang bekerja dengan shift, mempunyai 2 orang anak yang sudah cukup besar. Walau sudah berumur tapi penampilan Germen selalu tampak muda karena cara berpakaiannya yang seksi dan pandai bermake up. Sepintas Nia melirik pada Andri yang sedang berjoget dengan Germen. Terlihat Andri sedang tertawa dengan Germen sambil berjoget. Germen meliuk-liukkan pinggul bulatnya dengan bentuk pantat yang padat dan besar. Rok span ketat memperlihatkan pantat seksinya yang merangsang pada saat bergoyang. Lalu Nia kembali berjoget dan tertawa dengan pasangannya. Setelah acara usai, semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun capek.. Sesampai di rumah, setelah mandi air hangat, Nia dan Andri segera ke tempat tidur.

“Bagaimana tadi, sayang?” tanya Andri sambil memeluk Nia.
“Apanya?” tanya Nia kembali sambil menempatkan kepalanya di salah satu tangan Andri.
“Tadi waktu kita di tempat pesta” jawab Andri sambil mengecup bibir mungil Nia.
“Aku benar-benar gembira…” kata Nia tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap selangkangan Andri.
“Harusnya lingkungan kita lebih sering melakukan acara seperti tadi ya. Jangan cuma setahun sekali…” kata Andri. Satu tangannya masuk ke balik kimono Nia. Buah dada Nia diremas-remas dengan lembut. Nia tidak mengenakan pakaian dalam di balik kimono itu.
“Hmmmmm.. Kenapa begitu?” tanya Nia sambil mencium pipi Andri lalu mengecup bibirnya. Tangannya masuk ke balik celana Andri. Menggenggam batang kejantanan Andri yang mulai mengeras. Mengocok-ngocoknya dengan pelan.
“Ya… kita kan bisa bergembira dengan tetangga. Jarang sekali ngumpul bareng tetangga,” ujar Andri sambil melepas tali kimono yang dikenakan Nia. Sambil membaringkan kepalanya di samping dada Nia, dijilatnya salah satu puting buah dada Nia sambil tangannya yang lain meremas buah dada yang lain.
“Oooohh sayaang…” desah Nia pelan sambil memejamkan matanya. Tangannya meremas dengan erat batang kejantanan Andri.

Sambil tetap menciumi dan menjilati buah dada Nia, tangan Andri yang tadinya meremas buah dada, turun ke perut lalu disusupkan ke selangkangan Nia. Setelah jari-jarinya menyentuh bulu kemaluan Nia yang tipis, diusap dan diremasnya gundukan di selangkangan itu. Nia terpejam sambil mendesah pelan. Jari-jari tangan Andri lalu menyusuri belahan di selangkangan itu dan menyelusup ke dalamnya. Jari tengahnya menggesek-gesek dinding bagian dalam Meki Nia pelan. Lalu jari jempolnya menggesek-gesek itil Nia.

“Ooooooooooohhh sayaaaaaang…” desahan Nia mulai mengeras sambil menggerakkan pinggulnya.

Jari jempol Andri terus menggosok-gosok itil Nia dan jari tengahnya terus menggesek-gesek dinding dalam bagian atas Meki Nia sampai cairan Meki Nia keluar membasahi jari tengah Andri.

“Ooooooohhh…” desah Nia sambil satu tangannya memegang tangan Andri yang sedang bermain di Mekinya.
“Enak, sayang?” tanya Andri lalu melumat bibir Nia.

Lalu jari tengah Andri dikocok-kocokkan di Meki Nia. Tanpa menjawab pertanyaan Andri, Nia membalas ciuman Andri dengan hebat sambil menjepitkan pahanya dan menggoyangkan pinggulnya menahan kenikmatan ketika jari tangan Andri keluar masuk lubang Mekinya.

“Buka pakaiannya dong, sayang,” bisik Nia ke telinga Andri.

Andri bangkit dan melepas seluruh pakaiannya. Penis Andri terlihat sudah berdiri dengan kerasnya. Batang Penis yang ditumbuhi bulu-bulu pendek. Urat-uratnya melingkari batang Penis dengan kepala yang membulat merah mengkilat. Melihat itu, Nia segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Digenggamnya Penis Andri, Lebih kurang dua genggaman tangannya. Lalu dikocok-kocok perlahan. Cairan bening terlihat keluar dari lubang kepala Penis Andri. Ujung lidah Nia menjilati cairan tersebut. Lidahnya menyusuri belahan bulatan kepala Penis Andri yang memerah mengkilat.

“Ooooooohhhh sayaang…” desah Andri sambil meremas rambut Nia. Sambil melirik ke arah Andri lalu mulut Nia mengulum batang Penis Andri yang besar dan berurat-urat itu.

Clok… Clok… Clok… Terdengar suara kuluman mulut Nia pada Penis Andri.
“Oooooooohh… Enak sayaaaang… Ooooooooohhhh…” desah Andri sambil memegang kepala Nia lalu memompa pelan Penisnya di mulut Nia.
“Gantian, sayang…” bisik Nia sambil melepas kulumannya menatap Andri.

Andri tersenyum. Dibaringkannya tubuh Nia. Setelah meletakkan bantal sebagai alas kepala agar Nia dapat melihat Andri menjilat dan mengemut Mekinya, lalu Andri juga berbaring dengan mengangkat kedua kaki Nia yang dikangkangkannya lebar-lebar. Nia mendesah panjang saat lidah Andri dengan lincahnya bermain dan menjilati kelentit Meki Nia.

“Oooooooooohh sayaaaaaaang.., Terusssss…” desah Nia.

Apalagi ketika jari Andri masuk ke lubang Mekinya sambil lidahnya tak henti menjilati kelentit Nia. Gerakan pinggul Nia makin keras mengikuti rasa nikmatnya. Tak lama kemudian tangan Nia dengan keras meremas rambut Andri dan mendesakkan kepala Andri ke Mekinya. Lalu..

“Oooooooohhh… Enak, sayaaaaaaang.., Sssssssssshh…” jerit kecil Nia terdengar ketika Nia mencapai puncak kenikmatan.

Andri segera menghentikan jilatannya lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Walau mulutnya masih basah oleh cairan Meki Nia, Andri langsung melumat bibir Nia. Niapun langsung membalas ciuman Andri dengan hebat. Sambil tetap berciuman, tangan Nia membimbing Penis Andri masuk ke dalam belahan Mekinya. Bless… Bless… Bless… Penis Andri dengan cepat langsung keluar masuk Meki Nia.

“Meki kamu legit, saying… Enak…” bisik Andri sambil sedikit membungkuk ke tubuh Nia. Dengan berjongkok dan kedua kakinya mengangkang mengapit kedua kaki Nia yang melingkari pahanya, kedua tangannya mengalasi kepala Nia. Dengan sedikit mengangkat kepala Nia agar ia dapat melihat batang Penis Andri yang keluar masuk Mekinya dengan pelan.

Nia tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya. Pantatnya diangkat-angkat mengikuti irama goyangan pantat Andri yang maju mundur.

“Memang kenapa?” tanya Nia.
“Aku gak pernah bosan menyetubuhi kamu…” bisik Andri sambil terus memompa Penisnya.

Nia tersenyum.

“Kalau wanita lain rasanya bagaimana?” tanya Nia lagi.
“Aku gak pernah bersetubuh dengan wanita lain kok” jawab Andri.

Nia tersenyum lalu merangkulkan kedua tangannya ke pundak Andri sambil tetap menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Penis Andri. Kedua kakinya diangkat menjepit pinggang Andri.

“Aku mau tanya, sayang…” kata Nia.
“Apa?” tanya Andri.
“Tubuh Mbak Germen, tetangga kita itu, bagus tidak?” tanya Nia lagi.
“Ah pertanyaan kamu ada-ada saja…” kata Andri tak menghiraukan sambil terus memaju mundurkan pantatnya dengan cepat. Nafasnya memburu.
“Aku serius, sayang… Jawab jujurlah. Tidak apa-apa kok…” kata Nia.
“Tadi kamu lihat belahan buah dadanya gak?” tanya Nia lagi.

Andri mengangguk. Pantatnya dengan cepat naik-turun dan batang Penisynya dengan cepat juga keluar masuk Meki Nia. Semakin basah. Batang Penisnya dilumuri lender keputih-putihan banyak sekali. Nia tersenyum sambil terus menggoyangkan pinggul, matanya terus melihat batang Penis Andri keluar masuk mengocok Mekinya. Lalu kedua tangannya menngapit dan menekan pantat Andri agar tertancap lebih dalam di Mekinya.

“Jujur aja. Iya, tubuhnya bagus. Tadi aku sempat lihat belahan buah dadanya”.
“Marah?” tanya Andri kemudian lalu menghentikan gerakannya.

Nia tersenyum lagi. Kedua tangannya terus menekan pantat Andri agar batang Penisnya masuk lebih dalam sambil ia tetap menggoyang-goyang pinggulnya.

“Jangan berhenti dong, sayang… Goyang terusss… Mmmmmhh…” kata Nia.
“Aku gak marah kok. Justru aku suka mendengarnya… ” kata Nia lagi.
“Kenapa suka?” tanya Andri heran.
“Tadi waktu aku lihat kamu berjoget dengan Mbak Germen, gak tahu kenapa ada perasaan aneh…” kata Nia.
“Tiba-tiba aku membayangkan kamu bersetubuh dengan Mbak Germen…” lanjut Nia lagi
“Lho kenapa begitu?” tanya Andri.
“Gak tahu…” kata Nia.
“Kamu cemburu?” tanya Andri.
“Gak sama sekali. Justru sebaliknya, aku pengen banget liat kamu bersetubuh dengan Mbak Germen…” kata Nia.
“Kamu lagi horny kali tadi ya…?” tanya Andri tanpa menghentikan gerakan Penisnya. Sambil tersenyum diliriknya Nia. Lalu dengan menunduk, dikecupnya bibir Nia pelan.
Nia kembali tersenyum. Setelah beberapa lama memompa Penisnya, Andri mengejang, gerakannya bertambah cepat.

“Aku mau keluar, sayaaaaang… Ooooooohh…” bisik Andri.
“Tahan sebentar, sayang.. Aku juga mau keluar…” bisik Nia sambil mempercepat gerakan pinggulnya. Diangkat-angkatnya pinggul dan ditekannya pantat Andri lebih dalam.

Tak lama tubuhnya mengejang, tangannya kuat memeluk tubuh Andri.

“Aaaaaaaaaaahhhhhhh… Aku keluar, sayaaaaaang…” jerit Nia dengan keras.
“Oooooooohh… Nikmat banget sayaaaaaang… Oooooooooohh…” jerit kecil Nia ketika mencapai orgasme.Selang beberapa detik, Andri juga semakin mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya.
Crott… Crott… Crott… Air mani Andri menyembur dengan kencang di dalam Meki Nia.

“Aaaaaaaaarrghhhh… Sayaaaaaang…” Andri mendesakkan Penisnya dalam-dalam ke Meki Nia.. Tubuh kedua mereka lemas saling berpelukan sementara Penis Andri masih berada di dalam Meki Nia.

“Mau gak kalau aku minta kamu maen dengan Mbak Germen? Aku serius…” kata Nia sambil memeluk pundak Andri.
“Kenapa sih kamu mau yang aneh-aneh begitu?” tanya Andri.
“Aku gak tahu, sayang. Yang jelas ada perasaan horny aja waktu membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Germen…” jawab Nia.
“Mau kan, sayang?” tanya Nia memaksa.
“Kalaupun aku mau, bagaimana caranya, sayang…?” kata Andri sambil mengecup bibir istrinya.
“Nanti aku yang atur…” kata Nia sambil tersenyum.

Andri juga tersenyum sambil mencabut Penisnya dari Meki Nia, lalu bangkit dan menarik tangan Nia. Setelah bersih-bersih di kamar mandi, merekapun kemudian tidur.

Banyak cara yang dilakukan Nia agar Germen bisa dekat dan akrab dengannya dan Andri. Hal itu membuahkan hasil. Germen sekarang mulai sering bertandang ke rumah mereka walaupun sekedar ngobrol. Sampai suatu malam Nia mengundang Germen datang ke rumahnya. Germen datang dengan gaun terusan selutut dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda. Belahan buah dadanya yang putih bersih terlihat jelas di sela lekukan krah yang turun sampai ke dadanya. Ia terlihat sangat cantik dan elegan. Kakinya yang putih mulus terpampang dengan indah. Rambut tergerai panjang.

Sambil tiduran di karpet ruang tengah, Nia dan Germen berbincang-bincang tentang arisan lingkungan. Mereka terlihat akrab. Cemilan dan minuman turut dihidangkan Nia. Andri ikut duduk di karpet bersandar ke sofa, di samping Nia. Sesekali matanya melirik ke arah kaki Germen yang ditekuk. Germen yang tiduran dengan gaun terusan itu, membuat gaunnya tertarik ke bawah dan pahanya yang padat, putih dan mulus mengundang mata Andri untuk menikmatinya.

“Mas Agung sudah pergi kerja kan, Mbak?” tanya Nia sambil bangkit dari tidurannya tiba-tiba.
“Sudah dari tadi dong. Dia dapat bagian shift malam hari ini. Seminggu ini sih” ujar Germen.
“Eh ada apa nih undang saya malam-malam gini?” tanya Germen kemudian.
“Gak ada apa-apa kok, Mbak…” kata Nia.
“Aku cuma pengen ngajak Mbak nonton film yang baru aku beli” kata Nia sambil melirik kepada Andri. Andri membalas dengan senyuman.
“VCD begituan ya?” tanya Germen bersemangat. Dia langsung bangun dari tidurannya.

Nia tersenyum sambil melirik Andri.

“Cepatlah putar!” ujar Germen tidak sabar. Andri bangkit dari duduknya lalu merangkak menuju ke VCD player.
“Germen suka film yang mana?” tanya Andri sambil menyodorkan beberapa keping VCD porno.

Setelah memilih, Germen segera menyerahkan film yang ingin dilihatnya. Andri segera memutarnya. Awalnya mereka bertiga menonton film itu tanpa banyak bicara. Nia duduk berdampingan dengan Germen, sementara Andri duduk di belakang mereka.

“Udah ada yang bangun, ya?” tanya Nia tiba-tiba sambil tersenyum melirik ke arah selangkangan Andri.
“Hehehehehe… Lumayan” jawab Andri senyum-senyum.
“Lumayan apanya?” tanya Germen sambil matanya ikut melirik ke arah selangkangan Andri yang mulai menggembung. Andri tersenyum lalu menutupi kakinya dengan bantal.

“Mbak Germen seberapa sering begituan dengan Mas Agung?” tanya Nia kemudian kepada Germen.
“Ah, jarang sekali… Mungkin karena dia capek…” kata Germen sambil matanya terus melihat adegan pemain yang sedang bersetubuh di video.

Kembali mereka terdiam selama beberapa saat sambil melihat video.

“Sini dong…” kata Nia tiba-tiba melambai ke arah Andri sambil matanya berkedip memberi isyarat. Andri beringsut mendekati Nia. Diambilnya posisi di tengah-tengah Nia dan Germen.

“Ada apa sih…?” tanya Andri.
“Duduk dekat sini aja…” kata Nia dengan suara manja.

Setelah dekat, dengan sengaja tangan Nia segera masuk ke dalam celana pendek Andri. Lalu digenggam dan ditariknya keluar Penis Andri yang sudah tegang itu dari balik celana. Diremasnya pelan. Andri kontan kaget. Tapi refleks, badannya menunduk ke belakang dan kedua kakinya perlahan merenggang. Diambilnya satu bantal sebagai alas kepalanya Lalu tiduran.

Nia menarik turun celana pendek Andri sampai ke pahanya. Lalu sambil duduk nonton, tangannya terus mengocok dan meremas batang Penis Andri. Jari jempolnya menggesek-gesek kepala Penis Andri yang telah membulat besar berwarna kemerahan. Mengkilat karena cairan yang keluar dari lubang di kepala Penisnya itu.

Germen yang melihat hal itu, perasaannya menjadi tak karuan. Antara rasa malu, rasa ingin melihat dan rasa ingin memegang bercampur baur jadi satu. Batang Penis Andri yang panjang, besar dan berurat-urat itu sungguh membuatnya terangsang dengan cepat. Matanya bergantian melirik ke arah layar TV dan ke arah batang Penis Andri yang keras sedang dikocok oleh Nia.

“Udah pengen ya?” tanya Nia kepada Andri dengan suara yang agak dikeraskan. Lalu ia menunduk dan mencium bibir Andri. Lalu mulutnya mendekat ke batang Penis Andri yang tegak teracung. Dijilatinya kepala Penis itu. Dihisap kuat-kuat dan kembali dijilatinya.

“Oooooohhh…” Andri mendesah pelan sambil matanya melirik ke arah Germen. Germen yang semakin tidak menentu perasaannya, kebetulan melirik ke arah Andri. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Mata Germen tiba-tiba meredup dan bibirnya terbuka. Tiba-tiba seperti tersadar lalu membuang pandangannya ke arah video. Hatinya berdebar keras ketika berpandangan dengan Andri.

Nia melirik ke arah Andri dan Germen bergantian sambil tersenyum. Lalu dengan tanpa ragu-ragu, Nia menarik celana Andri lebih ke bawah. Lalu kembali dikocoknya pelan. Andri mendesah pelan sambil matanya melirik ke arah Germen yang jelas kelihatan gelisah. Germen berulang-ulang mengganti posisi duduknya. Dari kaki yang diluruskan menjadi disilangkan. Kemudian ditekuk.

“Mbak suka gak sama barang lelaki yang gede panjang?” tanya Nia sambil tersenyum menatap ke arah Germen.
“Hmmmmm… Iya… Iya… Suka dong…” kata Germen menatap Nia.

Matanya melirik ke tangan Nia yang sedang mengocok dan meremas batang Penis Andri. Batang Penis yang panjang, besar dan berurat-urat. Sekitar dua genggaman tangan Nia, pikirnya.

“Kalau yang kayak gini suka gak, Mbak?” tanya Nia sambil matanya mengisyaratkan agar Germen memegang Penis Andri.
“Ah, kamu ada-ada aja… Ya aku suka banget…” kata Germen senyum-senyum sambil kembali mengubah posisi duduknya.
“Sini dong, Mbak…” ajak Nia.

Germen beringsut duduk semakin dekat ke arah Andri. Kepala Penis Andri terlihat begitu mengkilat dan kemerahan. Germen sungguh semakin terangsang sekarang. Meliat Germen yang sedang terdiam memperhatikan tangannya sedang mengocok dan meremas batang Penis Andri, Nia tersenyum. Tangannya meraih tangan Germen, lalu ditariknya ke arah Penis Andri. Germen diam menuruti kemauan Nia.

“Coba pegang, Mbak…” kata Nia.

Tangannya membimbing jari-jari Germen menggenggam Penis Andri. Penis Andri terasa hangat dan berdenyut di tangan Germen. Nafas Germen memburu. Ada desiran yang menuntun tangannya perlahan meremas Penis Andri. Jari jempolnya spontan mengelus kepala Penis Andri. Digosok-gosoknya cairan kental yang keluar membasahi kepala Penis Andri yang besar membulat kemerahan itu. Sementara Nia melepaskan celana pendek Andri keluar dari kedua kakinya. Andri tersenyum sambil melirik ke arah Nia. Nia juga tersenyum lalu duduk mundur menjauh.

Tanpa diduga tangan Andri meraih dagu Germen. Lalu dengan segera mengecup bibirnya dan melumatnya dengan hangat. Satu tangannya yang lain merengkuh pinggang Germen dan menariknya tiduran di sampingnya. Germen yang sudah terangsang gairahnya langsung berbaring dan membalas ciuman Andri dengan hangat pula sambil tangannya mulai berani mengocok Penis Andri. Tangan Andri segera menyusup ke balik bawahan gaun terusan Germen. Disingkapkannya rok Germen sampai ke pinggul. Ditelusurinya paha Germen. Elusan tangannya segera menyelusup ke pangkal paha. Lalu jarinya diselipkan ke balik celana dalam Germen. Reflex Germen merenggangkan kedua pahanya dan mengangkat pantatnya. Memberi keleluasaan untuk tangan Andri masuk ke selangkangannya. Belahan di sela pahanya terasa hangat.

“Ssssssshhhhh… Oooooohhh…” desah Germen pelan sambil menggelinjang ketika jari tangan Andri menyusuri belahan Mekinya yang sudah sangat basah.
“Ooooooooooohhh…” desah Germen tambah keras ketika jari Andri masuk lubang Mekinya.

Andri menggesek-gesekkan jarinya ke dinding bagian atas di dalam Meki Germen. Pinggulnya digoyang-goyangkan karena nikmat. Lidah Andri masuk lebih dalam ke rongga mulut Germen dan membelit menggesek-gesekkan ke dinding mulutnya. Dihisap dan dilumatnya bibir Germen.

Sementara Nia sengaja menjauhkan diri dari mereka. Nia mendapat suatu rangsangan yang amat sangat ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita yang ia sukai. Nia tidak melakukan apapun hanya diam sambil melihat mereka bermesraan. Hanya nafas Nia yang terdengar memburu. Ketika tangan Andri mulai mencoba melepas pakaiannya, Germen tersentak sesaat. Dengan segera matanya menatap Nia. Tapi ketika dilihatnya Nia tersenyum sambil matanya mengisyaratkan agar Germen melanjutkan bercinta lagi. Germen sesaat terdiam. Tapi ketika tangan Andri merangkul pinggulnya dan satu tangannya yang lain meremas buah dada Germen, Germen terpejam dan meremas tangan Andri yang sedang meremas buah dadanya.

“Oooooohhh…” desah Germen seiring dengan jilatan dan pagutan Andri di lehernya sambil tak lepas tangannya meremas buah dada Germen.

Sambil berbaring Andri mengangkat pinggul Germen dan kedua kaki Germen diletakkan di pahanya. Lalu ia melepaskan celana dalam Germen. Sesaat Germen tampak canggung. Andri bangun dan segera melepas bajunya. Andri yang setengah berlutut begitu, Germen dapat melihat batang kejantanan yang keras, panjang dan besar di selangkangan Andri berdiri mengacung dengan kepala Penis yang begitu bulat menantang untuk dimasukkan ke dalam belahan Mekinya yang sudah sangat basah. Perut Andri yang ramping dan berotot sungguh merangsangnya.

Andri menunduk dan mencium bibir Germen. Lalu kedua tangannya membukai kancing gaun Germen. Sambil mengangkat tubuh Germen agar bangun, bibir mereka terus berpagutan. Satu tangan Germen melingkari leher Andri dan tangan yang lain kembali mengocok batang Penis Dciky dengan lebih cepat. Setelah melepas semua kancing dan kaitan gaun itu, dari kepala Germen, Andri menariknya sehingga Germen sekarang telanjang bulat. Mata Germen terpejam sayu. Bibirnya terbuka. Ia tak memperdulikan Nia lagi. Ditariknya tangan Andri sambil ia membaringkan tubuhnya ke belakang.

Kembali Andri menunduk menindih tubuh telanjang Germen. Jilatan lidah Andri pada puting buah dada Germen membuat Germen menggelinjang merasakan nikmat yang amat sangat. Ia juga merasakan sensasi yang sangat besar karena sedang bercumbu dengan seorang pria sambil diamati oleh wanita lain. Andri menghisap putingnya dengan kuat, Germen meremas rambut Andri dan membenamkan kepalanya di bulatan buah dadanya yang putih bersih itu. Buah dada Germen begitu kenyal dan besar. Dengan putingnya yang coklat kemerahan, Andri begitu cepat terangsang untuk melumatnya lama-lama.

“Oooooohh… Ooooooooohh Andri…” desah Germen ketika jilatan lidah Andri turun ke perut lalu turun lagi menyusuri selangkangannya.

Pinggulnya bergoyang mengikuti desiran rasa nikmat itu. Nia tetap diam menyaksikan tubuh telanjang suaminya yang sedang bergumul mesra dengan Germen. Nafasnya makin memburu waktu melihat Andri dan Germen berganti posisi. Andri berbaring dan Germen menindih tubuhnya dari atas sambil mengangkangkan pahanya tepat di mulat Andri. Penis Andri dihisap sambil dikocok oleh Germen dan Andri menjilat serta mengemut bibir Meki Germen dengan buas.

“Ooooooohhhhh Andri…” Germen berulang-ulang menjerit sambil menengadahkan kepalanya. Pantatnya ditekan ke bawah dalam-dalam. Membenamkan wajah Andri di selangkangannya.

Tanpa terasa tangan Nia menyelusup ke dalam celana dalamnya. Lalu jarinya mulai menggosok-gosok belahan Mekinya sendiri. Nia sangat menikmati ketika Andri mengangkat-angkat pantatnya memompa Penisnya ke dalam mulut Germen. Saat Germen menghisap dengan kuat Penis Andri, kontan Andri mengerang kuat. Tak tahan dengan pemandangan itu, Nia segera melepaskan semua pakaiannya. Dengan duduk telanjang dan mengangkang, ia mengocok-ngocok Mekinya dengan jari sambil mengamati persetubuhan Andri dengan Germen di dekatnya.

“Aaaaaarggghhhh… Germen…” teriaknya sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi.
Nafas Nia semakin memburu. Satu jarinya semakin cepat keluar masuk Mekinya sendiri ketika melihat Andri dan Germen kembali berganti posisi. Germen tetap di atas. Sambil mengangkangi pinggang Andri, perlahan satu tangannya memasukkan batang Penis Andri ke dalam belahan Mekinya. Sambil memeluk Germen agar terbaring di atas tubuhnya, ia mulai menyetubuhi Germen. Satu tangannya memeluk punggung Germen dan tangan yang lain memeluk pinggul Germen. Desahan dan erangan mereka membuat gairah Nia bertambah naik.

“Ooooooooohh… Ssssssshh…” desis Germen ketika Andri dengan cepat mengangkat-angkat pantat dan mengeluar masukkan Penisnya di Meki Germen dari bawah.

Lalu dikecup dan dihisapnya dengan kuat bibir Andri. Matanya terpejam dan pinggulnya dimaju mundurkan dengan cepat pula. Tak tahan dengan gesekan batang Penis Andri yang terasa penbuh di dalam belahan Mekinya, Germen menyusupkan wajahanya ke samping sambil menghisap kuat-kuat leher Andri.

“Gimana rasanya, Mbak?” tanya Andri sambil mengelus rambut Germen.
“Oooooooooohh… Enak bangeeeet, Andri… Oooooohhh enak bangeeeet…” jawab Germen sambil meremas rambut Andri. Sementara pinggulnya bergoyang mengikuti gerakan Andri.

Setelah sekitar 15-an menit mereka bersetubuh disaksikan Nia, sampai akhirnya Germen memeluk tubuh Andri kuat-kuat. Mekinya didesakkan ke Penis Andri dalam-dalam. Gerakan pinggulnya makin cepat. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar sambil mendesah panjang. Diremaskan dengan kuat rambut Andri. Dihisapnya juga dengan kuat leher Andri.

“Oooooooohh… Oooooooooooohh….” desah Germen terkulai lemas setelah mendapat orgasmenya yang pertama.

Sementara Andri masih terus mengangkat-angkat pantatnya menggenjot Penisnya di Meki Germen dari bawah. Sambil mencium bibir Germen, dibalikkannya tubuh Germen. Lalu dengan berjongkok mengangkang, diletakkannya kedua paha Germen menimpa pahanya. Andri menunduk dan mencium kembali bibir Germen. Spontan Germen melingkarkan kedua kakinya di pinggang Andri. Kedua tangannya menekan pantat Andri kuat-kuat.

Sekarang Andri dengan cepat lebih leluasa mengocok-ngocokkan batang Penisnya kembali ke dalam Meki Germen. Germen kembali mendesah dan menjerit-jerit saat batang Penis Andri menyentuh ujung rahimnya.

“Ooooooohhhh… Oooooohhhh Andri…” jeritnya ulang-ulang tanpa henti.

Terasa ngilu dan geli yang sangat merangsang Mekinya untuk kembali mengalami orgasme. Ditariknya Andri ke arah tubuhnya sambil memeluknya dengan erat. Kedua kakinya turun menjepit kaki Andri. Seakan-akan Germen tak ingin melepaskan Andri sampai ia mencapai orgasmenya yang kedua. Ia juga memaju mundurkan pantatnya dari bawah. Gerakannya makin cepat ketika Andri mengatakan ia akan keluar.

“Oooohhhh… Aku mau keluar Germen… Aku mau keluar Germen…” teriak Andri ulang-ulang.
Germen dapat merasakan ada sesuatu yang mendesak nikmat akan keluar dari Penis Andri. Batang Penis itu terasa semamin membesar di dalam Mekinya. Mekinya terasa semakin penuh oleh batang Penis Andri yang lebih besar daripada Penis suaminya. Saat Andri akan menarik Penis dari Mekinya, Germen menahan pantat Andri.

“Di dalam aja… Ooooohhhh“ bisiknya pelan ke telinga Andri.

“Aaaaaarggggghhhhh… Aku gak tahan…” tiba-tiba Andri mendesah kuat.
“Aaaaaaaaaargghhhhhh… Aku keluaaaaaaar… Oooooohhhh… “ Andri membenamkan batang Penisnya dalam-dalam ke Meki Germen. Dipeluknya tubuh Germen dan dilumatnya bibir Germen dengan kuat. Tiba-tiba Germen yang merasakan sensasi kenikmatan yang dirasakan Andri juga tak dapat menahan orgasmenya yang kedua.

“Ooooooooohhhhhh… Andri… Oooooohhhhh… “ desahnya dengan kuat.

Ditekannya pantat Andri ke bawah dan diangkat-angkat pantatnya ke atas. Ujung batang Penis Andri mendesak rahimnya dengan kuat. Sungguh ngilu dan geli yang amat sangat sehingga ia tak dapat menahan kenikmatannya datang lagi. Sehingga pada saat sperma hangat Andri menyembur ke dalam rahimnya, kontan Germen tak dapat menahan orgasmenya yang kedua. Berdua mereka berbarengan keluar.

Tubuh Andri lemas terkulai di atas tubuh telanjang Germen. Tapi batang Penisnya masih tetap mengeras di dalam Meki Germen.

“Penisku masih keras. Sekarang kamu ya sayang?” tanyanya kepada Nia. Nia yang melihat mereka sedang terkulai bertindihan lemas segera beringsut menghampiri. Diusapnya pantat Andri. Pakaiannya sudah dari tadi ia lepaskan.

“Masih kuat, sayang?” bisik Nia ke telinga Andri.

Andri segera mencabut Penisnya dari Meki Germen lalu bangkit berjongkok. Batang Penisnya memang masih keras berdiri walau ia sendiri sudah mengalami orgasme barusan. Germen duduk sambil tersenyum memperhatikan mereka berdua.

“Aku masih kuat, sayang…” kata Andri lalu berbaring dan menarik tangan Nia.

Diciumnya bibir Nia. Nia segera menaiki tubuh Andri. Ia duduk mengangkangi selangkangan Andri. Sambil memeluk pinggangnya, Andri menggesek-gesekkan batang Penisnya ke belahan Meki Nia. Lalu Nia menekan pantatnya membenamkan batang Penis Andri ke dalam Mekinya.

“Oooooohhh sayaaaang…” desah Nia dengan kuat.

Ditengadahkannya wajah dengan mata terpejam. Sambil menunduk mencium bibir Andri, diangkat-angkatnya pantat mengocok batang Penis Andri dengan cepat. Tiba-tiba ia teringat Germen.

“Gimana, Mbak? Enak?” tanya Nia kepada Germen sambil tersenyum. Germen tersenyum. Lalu sambil duduk ia berpakaian.

“Aku bisa ketagihan, lho…” kata Germen.
“Penis Andri enak banget…” lanjutnya sambil tersenyum manis ke arah Andri.
“Kapan saja Mbak pengen, datang aja ke sini…” kata Nia tersenyum pula.
“Makasih, Nia. Aku pulang dulu ya,” kata Germen sambil mengecup pipi Nia yang sedang bersetubuh dengan Andri. Diciumnya juga bibir Andri.

Nia menggangguk. Sesaat mereka terdiam sambil melihat Germen menutup pintu.

Sampai saat ini, sudah berpuluh kali Germen bersetubuh dengan Andri di depan mata Nia. Nia bukan biseks. Nia hanya merasakan suatu gairah dan rangsangan yang sangat kuat ketika melihat suaminya menyetubuhi wanita lain yang disukai Nia sendiri. Dan menurut Nia juga, sampai detik ini mereka tidak pernah main bertiga. Andri selalu bersetubuh hanya berdua dengan Germen.

Sementara Nia juga selalu hanya bersetubuh berdua denganku. Tidak pernah bertiga dengan Andri. Hal ini yang membuat suasana hidup Nia menjadi berwarna cerah.

Friday, December 22, 2017

CERITA DEWASA NGENTOT DENGAN WANITA CANTIK AGEN ASURANSI !!!!


Pulang kantor jalanan masih agak macet. Kantorku berada di daerah Harmoni. Pada jam-jam sibuk tentu saja macet total. Langit agak mendung, tapi dugaanku sore sampai malam ini tidak akan turun hujan. Dengan langkah sedang aku keluar kantor dan berjalan ke arah Juanda, rencana naik bis dari sana saja. Maklum karyawan baru, jadi masih naik Mercy dengan kapasitas besar.

Sampai di Juanda aku cari bis kota tujuan ke Senen. Sebentar kemudian datang bis kota yang sudah miring ke kiri. Aku naik dan menyelinap ke dalam. Aroma di dalam bis sungguh rruarr biasa. Segala macam aroma ada di sana. Mulai dari parfum campur keringat sampai bau asap dan lain-lainnya.

Tak lama aku sampai di Senen. Turun di Pasar Senen dan masuk ke dalamnya. Ada beberapa barang yang harus kucari. Putar sana putar sini nggak ketemu juga yang kucari. Malahan digodain sama kapster-kapster di salon lantai 2. Dengan kata-kata yang menjurus mereka merayuku untuk masuk ke salonnya. Kubalas saja godaan mereka, toh aku juga lagi nggak ada keperluan ke salon. Sekedar membalas dan menyenangkan mereka yang merayu untuk sekedar gunting, facial atau creambath.

Akhirnya kuputuskan untuk cari di Atrium saja. Aku nyeberang di dekat jembatan layang. Memang budaya tertib sangat kurang di negara ini. Senangnya potong kompas dengan mengambil resiko.

Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam Atrium, mataku tertuju pada seorang wanita setengah baya, kutaksir umurnya tiga puluh lima tahun. Ia mengenakan blazer hijau dengan blouse hitam. Pandangannya kesana kemari dan gelisah seolah-olah menunggu seseorang. Aku lewat saja di depannya tanpa ada suatu kesan khusus. Sampai di depannya dia menyapaku.

“Maaf Mas mengganggu sebentar. Jam berapa sekarang?” tanyanya halus. Dari logatnya kutebak dia orang Jawa Tengah, sekitar Solo.
“Aduh, sorry juga Mbak, saya juga tidak pakai jam,” sambil kulihatkan pergelangan tanganku.”Mbak mau kemana, kok kelihatannya gelisah?” tanyaku lagi.
“Lagi tunggu teman, janjian jam setengah lima kok sampai sekarang belum muncul juga” jawabnya.
“Ooo..” komentarku sekedar menunjukkan sedikit perhatian.
“Mas mau kemana, baru pulang kantor nih?” dia balik bertanya.
“Iya, mau beli sesuatu, tadi cari di Proyek nggak ada, kali-kali aja ada di Atrium”.

Akhirnya meluncurlah dari mulut kami beberapa pertanyaan basa-basi standar.

“Oh ya dari tadi kita bicara tapi belum tahu namanya, saya Vera,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Anto,” sahutku pendek, “OK Vera, saya mau jalan dulu cari barang yang saya perlukan”.
“Silakan, saya masih tunggu teman di sini, barangkali dia terjebak macet atau ada halangan lainnya”.

Kami berpisah, saya masuk ke dalam dan langsung ke Gunung Agung. Kulihat Vera masih menunggu di pintu Atrium. Setengah jam keliling Gunung Agung ternyata tidak ada barang yang kucari. Kuputuskan pulang saja, besok coba cari di Gramedia atau Maruzen. Aku keluar dari pintu yang sama waktu masuk, arah ke Proyek. Kulihat Vera masih juga berdiri di sana. Kuhampiri dia dan kutanya.

“Masih ada disini, belum pulang?”.
“Ini mau pulang, besok aja kutelpon dia ke kantor,” jawabnya.






Waktu itu, 1994, HP masih menjadi barang mewah yang tidak setiap orang dapat memilikinya.

“Mbak naik apa?”
“Oh, saya bawa mobil sendiri, meskipun butut”.
“OK, kalau begitu saya pulang, saya naik Mercy besar ke Kampung Melayu”.

Dia kelihatan agak berpikir. Baru pada saat ini aku mengamati dia dengan lebih teliti. Tingginya kutaksir 158 cm, kulitnya kuning kecoklatan, khas wanita Jawa dengan perawakan seimbang. Rambutnya berombak sebahu, matanya agak lebar dan dadanya standar, 34.

Kenapa, something wrong?” kataku.
“Nggak, nggak aku juga mau jalan lagi suntuk. Rumah saya di Cinere, jam segini juga lagi full macet” sambil memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan.
“Boleh saya temani,” sahutku asal saja. Jujur aku hanya asal berkata saja tanpa mengharap apapun. Dia menatapku sejenak dan akhirnya..
“Boleh saja, kalau nggak mengganggu” jawabnya.

Kami menuju basement tempat parkir mobilnya. Dia memberikan kunci mobilnya padaku.

“Bisa bawa mobil kan?” tanyanya.

Aku terkejut, karena aku memang bisa nyetir mobil tapi masih belum lancar sekali dan tidak punyai SIM.

“Aduh, so.. Sorry, jangan aku yang bawa. Aku nggak punya SIM,” kataku mengelak.
“Baiklah kalau begitu, biar aku sendiri yang bawa,” katanya sambil tersenyum.

Vera naik mobil dan membukakan pintu sebelah kiri depan dari dalam. Mobilnya Suzuki Carry warna merah maron. Kulihat di atas jok tengah berserakan map dan kertas.

“Kemana kita?” katanya.
“Terserah ibu sopir saja, asal jangan ke Bogor, jauh” sahutku bercanda.
“Kita ke Monas saja deh” katanya sambil terus tetap menyetir.

Karena dia mengenakan rok span selutut, jadinya waktu duduk menyetir agak ketarik ke atas, pahanya terlihat sedikit. Aku menelan ludah.

Monas terlihat sepi sore ini, jam di dashboard menunjukkan 17.55. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di pelataran parkir. Vera memarkir mobilnya agak jauh dari mobil lainnya. Ia mematikan kontak dan membuka jendela. Kami tetap duduk di dalam mobil.

Uffh, hari yang melelahkan”. Vera menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil. Blazernya tidak dikancingkan sehingga dadanya kelihatan menonjol.





Ngomong-ngomong Mas Anto ini kerja di mana?”
“Karyawan swasta, kantornya di Harmoni, Mbak Vera sendiri di mana?” balasku.
“Saya agen sebuah Asuransi BUMN, rencananya tadi dengan teman saya, Dewi, akan prospek di sebuah kantor di Kramat, makanya janjian di Atrium. Eh, dianya nggak datang. Eh, bagaimana kalau kita masing-masing panggil dengan nama saja tanpa sebutan basa-basi supaya lebih akrab. Toh umur kita nggak jauh berbeda. Aku tiga puluh lima, kutaksir kamu paling-paling tiga puluh”

Ternyata taksiranku tepat, taksirannya meleset. Waktu itu umurku sendiri baru dua puluh lima. Mungkin karena warna kulitku agak gelap dan berkumis maka wajahku kelihatan lebih tua. Tapi menurut teman-temanku baik perempuan ataupun laki-laki, dengan wajah cukup ganteng, tinggi 170 cm, perawakan tegap, berkumis dan dada berbulu aku termasuk idaman wanita.

Vera ternyata seorang janda dengan satu anak. Ketika kutanya kenapa dia bercerai, air mukanya berubah dan ia menghela napas panjang.

“Sudahlah, itu kenangan buruk dari masa laluku, tak usah dibicarakan lagi” katanya.
“Baiklah, maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu,” kataku.

Senja semakin merambat, lampu jalan sudah mulai dinyalakan mengalahkan temaram senja. Di bawah lampu merkuri wajah Vera terlihat pucat. Tiba-tiba saja kami bertatapan. Vera terlihat sangat lelah, tapi bibirnya dipaksakan tersenyum. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja tangan kananku sudah kulingkarkan di lehernya dan kurengkuh ia ke dalam pelukanku. Kucium bibir tipisnya dan ia membalasnya dengan melumat bibirku lembut. Kami saling memandang dan tersenyum.

“Anto, maukah kamu menemaniku ngobrol?”
“Lho, bukankah sekarang ini kita lagi ngobrol”.
“Maksudku, kita cari.. Nggh.. Tempat yang tenang”.

Kucium bibirnya lagi dan ia membalas lebih panas dari ciuman yang pertama tadi. Tanpa kujawab mestinya ia sudah tahu.

“Ayo kita berangkat,” ajaknya sambil menghidupkan mesin mobil.
“Baiklah kita ke arah Tanah Abang saja yuk,” jawabku.

Dari Monas kami menuju ke Tanah Abang. Kami sempat terjebak kemacetan di sekitar Stasiun Tanah Abang. Akhirnya kuarahkan dia ke Petamburan. Kulihat dia ragu-ragu untuk masuk ke halaman sebuah hotel.

“Ayolah masuk saja, nggak apa-apa kok. Hotelnya cukup bersih dan murah” kataku meyakinkannya.
“Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin mobilku terlihat secara mencolok di halaman hotel” sahutnya. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir yang cukup terlindung dari jalan umum.

Setelah membereskan urusan di front office, kami masuk ke dalam kamar. Kuamati sejenak keadaan di dalam kamar. Di dinding sejajar dengan arah ranjang dipasang cermin selebar 80 cm memanjang sepanjang dinding. Aku tersenyum dan membatin rupanya hotel ini memang dipersiapkan khusus untuk pasangan yang mau kencan.

“Kamu sering masuk ke sini, To? Kelihatannya sudah familiar sekali” tanyanya.
“Nggak juga. Namanya nginap di hotel kan tahapannya standar aja. Lapor ke front office, serahkan ID, bayar bill untuk semalam lalu ambil kunci kamar. Beres kan?”
“Kalau lagi prospek, bagaimana pengalamanmu. Sering dijahili klien nggak” tanyaku memancing.
“Yahh, ada juga yang iseng. Tapi kalau orangnya oke, boleh juga sih. Sudah dapat komisi plus tip plus enak gila”.

Ternyata beginilah salah satu sisi dunia asuransi. Saya nggak menghakimi, tetapi semua itu kembali tergantung pada orangnya.

“Aduh, kalau begitu saya nggak bisa kasih tip. Kita pulang saja yuk” kataku pura-pura serius.
“Huussh.. Kamu kok nganggap saya begitu sih”.

Kami berbaring berjejer di ranjang yang empuk. Vera tengkurap di sebelahku dan menatapku sejenak, lalu ia mendekatkan mukanya ke mukaku dan mencium bibirku. Aku membalas dengan perlahan. Vera terus menciumiku sambil melepas blazernya. Kaki kirinya membelit kakiku. Tangannya merayap di atas kemejaku dan mulai melepas kancing serta menariknya sehingga dadaku terbuka. Vera semakin terangsang melihat dadaku yang berbulu. Ia membelai-belai dadaku dan sekali-sekali menarik perlahan bulu dadaku.

“Simbarmu iku lho To, bikin aku.. Serr” bisiknya. Simbar adalah sebutan bulu dada dalam bahasa Jawa.
“Mandi dulu yuk” kataku.
“Nggak usah, nanti aja. Bau tubuhmu lebih merangsang daripada bau sabun bahkan parfum” katanya.

Bibirnya bergeser ke bawah dan kini ia menciumi leherku. Aku menggelinjang kegelian sekaligus nikmat. Napas kami mulai berat dan memburu. Sambil terus menciumi dadaku, Vera melepaskan blousenya. Kulihat buah dadanya yang masih kenyal dan padat terbungkus bra warna merah jambu. Seksi sekali. Tangannya bergerak ke bawah, membuka kepala ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluitingku dan langsung menariknya ke bawah. Aku sedikit mengangkat pantatku membantu gerakan tangannya membuka celanaku. Kini tangannya bergerak ke belakangnya, tidak lama kemudian roknya sudah merosot dan hanya dengan gerakan kakinya rok tersebut sudah terlepas dan terlempar ke lantai.

angan kananku bergerak ke punggungnya dan terdengar suara “tikk” kancing pengait branya sudah terlepas. Aku melepas branya dengan sangat perlahan sambil mengusap-usap bahu dan lengannya. Vera mengangkat tangannya dari tubuhku dan akhirnya terlepaslah bra merah jambu yang dipakainya. Buah dadanya berukuran sedang, taksiranku 34 saja, terlihat kenyal dan padat. Urat-uratnya yang membiru di bawah kulit terlihat sangat menarik seperti alur sungai di pegunungan. Putingnya yang merah kecoklatan menantangku untuk segera mengulumnya. Payudara sebelah kanan kuisap dan kukulum, sementara sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku, demikian berganti-ganti. Tangan kiriku mengusap-usap punggungnya dengan lembut.

Vera mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat.

“Ououououhh.. Nghgghh, Anto teruskan.. Ouuhh.. Anto”

Payudaranya kukulum habis sampai ke pangkalnya. Vera menghentakkan kepalanya dan menjilati telingaku. Akupun sudah merangsang hebat. Senjataku sudah mengeras dan kepalanya sudah nongol di balik celana dalamku. Vera melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia yang aktif menjilati dan menciumi tubuhku bagian atas. Dari leher bibirnya menyusuri dadaku, menjilati bulu dadaku dan..

“Oukhh, Vera.. Yachh.” aku mengerang ketika mulutnya menjilati puting kiriku. Kini bibirnya pindah ke puting kananku. Aku mendorong tubuhnya, tak tahan dengan rangsangan pada puting kananku.

Vera semakin ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku yang masih terbungkus celana dalam. Tangannya juga bergerak ke bawah, menarik celanaku sampai ke lutut dan akhirnya menariknya ke bawah dengan kakinya. Aku tinggal memakai kemeja saja yang kancingnya juga terbuka semua.








Vera memandangku dan mengangguk ketika kepalanya ada di atas selangkanganku. Aku juga mengangguk. Aku memang tidak pernah meminta wanita yang kutiduri untuk melakukan oral sex. Aku sendiri tidak terlalu suka melakukan oral sex pada setiap wanita. Ada type-type wanita tertentu yang kuberikan service khusus ini. Jika mereka mau melakukannya biarlah mereka yang berinisiatif. Kepalanya kemudian bergerak ke bawah. Ia mengisap-isap buah zakarku dan menjilatinya sampai ke titik 2 cm di dekat anusku. Aku baca titik itu adalah titik Kundalini. Aku tidak tahan dengan perlakuannya. Kututup mukaku dengan bantal. Kugigit bibir bawahku sampai terasa sakit.

Tiba-tiba meriamku seperti kena setrum yang besar ketika lidah Vera menjilat kepalanya. Secara refleks kukencangkan otot perutku sehingga meriamku juga ikut bergerak-gerak. Punyaku memang tidak terlalu besar. Rata-rata saja untuk ukuran umum, namun ternyata beberapa wanita yang pernah merasakannya sangat puas. Kulepas bantal yang menutup mukaku dan kubuka mataku. Kulihat Vera dengan asyiknya menjilat, menghisap dan mengulum meriamku. Kadang-kadang ia melihat ke arahku dan tersenyum kecil. Aku terpekik kecil setiap lidahnya yang runcing menjilat lubang kencingku. Syaraf-syarafku di sana terasa mau putus.

Vera melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan tangannya melepas celana dalamnya sendiri dengan cepat. Kembali bibirnya menyambar bibirku. Kubalas dengan ganas dan kudorong lidahku menggelitik rongga mulutnya. Lidahku kemudian diisapnya dengan kuat. Aku hampir tersedak. Tangannya mengembara ke selangkanganku dan kemudian meremas dan mengocok meriamku. Meriamku semakin tegang dan keras.

“Ouououhhkk.. Puaskan aku. Berikan aku kenikmatan” ia memekik tertahan.

Tidak lama kemudian tangannya memegang erat meriamku dan kurasakan pantat dan pinggul Vera bergerak-gerak menggesek meriamku. Dan kemudian.. Blesshh. Kepala meriamku masuk ke dalam gua kenikmatannya. Terasa lembab namun masih kering dan sempit. Kurasakan dinding guanya berdenyut-denyut meremas kemaluanku.

“Akhh.. Oukkhh” Vera mendongakkan kepalanya dan kujilati lehernya yang berada di depan wajahku. Ia terus menggoyangkan pantatnya sehingga sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang meriamku sudah terbenam dalam guanya.

Vera menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di sampingku. Pantatnya bergerak maju mundur untuk menangguk kenikmatan. Kadang gerakannya berubah kadang menjadi ke kanan ke kiri dan kadang berputar-putar. Sesekali gerakannya menjadi pelan dan pantatnya naik agak tinggi sehingga hanya kepala meriamku berada di bibir guanya dan bibir guanya kemudian berkontraksi mengurut kepala meriamku. Kemudian ia hanya pelan menggesek-gesekkan bibir guanya pada kepala meriamku sampai beberapa kali dan kemudian dengan cepat ia menurunkan pantatnya hingga seluruh batang meriamku tenggelam seluruhnya. Ketika batang meriamku terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoyang ke kanan dan kekiri. Napasnya mulai tersengal-sengal dan memburu.

Kunaikkan punggungku dengan bertopang pada siku. Kuisap puting buah dadanya yang sudah membatu. Gerakannya semakin liar dan berat. Tanganku kini memeluk punggungnya seolah-olah seperti menggantung pada badannya. Kulengkungkan bagian atas tubuhku mendekat ke tubuhnya. Berat badanku kutumpukan pada punggungku.

Tangannya yang menahan berat badanya kemudian dilepaskan dan memeluk diriku rapat-rapat. Kini gerakannya pelan namun sangat terasa. Pantatnya naik ke atas kadang sampai meriamku lepas, namun kemudian ia menurunkan lagi dengan pelan dan kusambut dengan gerakan pantatnku ke atas. Kembali meriamku menembus guanya, guanya berdenyut sehingga seluruh batang meriamku mulai dari pangkal hingga ke ujung seperti diurut. Baru kali ini aku merasakan denyutan dinding vagina yang begitu kuat. Ada beberapa wanita yang bisa melakukannya namun kali ini benar-benar luar biasa. Melebihi wanita Madura yang pernah kurasakan. Aku sendiri belum mengerahkan otot kemaluanku untuk berkontraksi, kubiarkan saja sampai ia mencapai puncak terlebih dahulu.

Tangannya meremas dan menjambak rambutku, punggungnya melengkung menahan kenikmatan. Mulutnya merintih dan mengerang keras. Kupikir mungkin terdengar sampai keluar kamar. Emangnya gua pikirin! Paling yang dengar jadi kepengin.

“Anto.. Ouhh Anto, aku mau nyampai, aku mau kelu.. ar”
“Sshh.. Shh”
“Anto sekarang ouhh.. Sekarang” ia memekik.

Tubuhnya mengejang rapat diatasku dan kakinya membelit kakiku. Mulutnya mencari-cari bibirku dan kusambar agar ia tidak merintih terlalu keras lagi. Vaginanya berdenyut kuat sekali dan pantatnya menekan ke bawah dengan keras hingga meriamku terasa sakit. Vaginanya terasa becek, namun tidak menyembur seperti yang banyak diceritakan orang. Kupikir mereka itu pembohong kalau menceritakan orgasme wanita yang sampai memancar seperti air mani. Kupeluk punggungnya dan kuurut dengan kuat mulai dari belakang leher sampai ke pinggangnya.

Tubuh Vera mulai melemas di atas badanku. Keringatnya menitik di sekujur pori-porinya. Kemaluanku yang masih menegang keras di dalam vaginanya. Vera sepertinya sengaja membiarkannya dalam posisi seperti itu.

“Terima kasih Anto. Kau sungguh hebat sekali. Aku nggak tahan lagi” ia berbisik di telingaku.

Aku diam saja sambil mengelus-elus punggungnya. Kuciumi rambutnya. Kupikir akan kupuaskan dia sampai tak bertenaga.

Akhirnya Vera bangun setelah napasnya teratur menghela napas dalam-dalam. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan kudengar suara shower. Namun kedengarannya ia tidak mandi, hanya membasuh vaginanya saja. Sementara aku mencoba memejamkan mata sebentar untuk berkonsentrasi dan mengumpulkan tenaga. Ia keluar sambil menenteng gayung, sabun dan handuk. Dengan perlahan ia membasuh dan membersihkan kemaluanku yang masih agak tegang karena belum mencapai puncaknya. Karena terkena air, maka kemaluanku kontan saja mengkeret dan mengecil ke ukuran normal. Vera kembali ke dalam kamar mandi mengembalikan gayung dan sebentar keluar lagi.

Aku duduk menyelonjorkan kaki di atas ranjang dan merapikan kemeja yang tetap kupakai selama bercinta babak pertama tadi. Vera memelukku dari belakang dan menciumi tengkukku. Aku merinding oleh ciumannya. Tangannya mempermainkan bulu dadaku. Kelihatannya ia sangat suka.

Vera menarik kemeja yang kukenakan dan akhirnya sekarang aku bugil 100%. Dadanya yang keras menekan punggungku. Kuputar tubuhnya sedemikian sehingga kami berhadapan. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya. Ia merintih, nafsunya mulai bangkit. Kubalikkan lagi tubuhnya sehingga membelakangiku. Kuciumi tengkuk, cuping telinga dan leher belakangnya.

“Ouhh jangan kau siksa aku.. Ayo kita lanjutkan lagi say..”

Kami kembali berbaring miring ke kiri dalam posisi Vera tetap membelakangiku. Kuremas dadanya dengan kuat, kupilin putingnya. Kemaluanku yang belum menembakkan pelurunya dengan cepat mengeras kembali. Mulutnya mencari bibirku ketika bibirku menjilati lehernya pada bagian samping. Kami berciuman dalam posisi miring.

Kuangkat kaki kanannya dan kucoba memasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya dari belakang. Beberapa kali kucoba dan gagal. Akhirnya Vera mencondongkan pantatnya dan menjauhkan tubuh bagian atasnya dari tubuhku. Dalam posisi demikian aku bisa menembus guanya meskipun dengan berjuang keras.

Kudorong pantatku maju mundur dengan pelan tapi bertenaga. Meskipun tanpa kontraksi dalam posisi demikian terasa sempit sekali vaginanya. Kuputar tubuhnya hingga ia berada di atasku. Dari bawah kugenjot vaginanya. Kupikir tadinya akan mudah, ternyata sangat sulit. Tubuhku tidak bisa bergerak dengan leluasa. Vera mengerti kesulitanku. Ia melepaskan pelukanku dan berjongkok tetap membelakangiku. Tak berapa lama kembali ia memainkan kontraksi otot vaginanya. Aku tetap membiarkannya ia kontraksi sendirian.

Vera menaikturunkan pantatnya dan rasa nikmat menjalari tubuh kami berdua. Kadang pantatnya menggantung dan giliranku untuk memompa dari bawah. Demikian dalam posisi ini kami bertahan beberapa saat sampai akhirnya.

“Gila kamu To, aku keluar lagi.. Oukhh”

Ia berteriak dan melengkungkan badannya, lalu merebahkan badannya telentang dan menekan kemaluanku sampai amblas. Tangannya mencengkeram sprei. Sunyi sejenak tanpa ada suara apapun kecuali napas Vera yang terengah-engah. Vera memutarkan tubuhnya tanpa melepaskan kemaluanku, sehingga ia dapat berada dalam posisi berhadapan di atasku.

“Luar biasa kamu Anto, aku puas sekali malam ini”
“Aku yang belum puas, kini giliranku mendapatkan kepuasan”.

Kugulingkan badannya sehingga kini aku yang berada di atas mengendalikan permainan. Kusodokkan kemaluanku ke dalam kemaluannya dengan satu hentakan keras sehingga ia melenguh.

“Uuuhh.. Tahan dulu To, aku masih lelah” katanya.

Aku tak pedulikan permintaannya, tetap kusodokkan kemaluanku dengan pelan dan mantap sampai akhirnya kemaluanku menjadi sangat keras. Vera akhirnya kembali terangsang setelah beberapa saat kugerakkan kemaluanku. Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya kemudian pelan-pelan kugesekkan dan kemudian kumasukkan kepalanya saja ke bibir guanya yang lembab dan merah. Vera terpejam menikmati kontraksi kemaluanku pada bibir kemaluannya.

“Kenapa dari tadi nggak kau mainkan.. Hggk”.

Dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kusodokkan kemaluanku sampai mentok ke rahimnya. Kumaju mundurkan dengan pelan setengah batang sampai beberapa hitungan kemudian kusodokkan dengan kuat sampai semua batangku amblas. Vera menggerakkan pinggulnya memutar dan naik turun sehingga kenikmatan yang luar biasa sama-sama kami rasakan. Kusedot payudaranya sampai ke pangkalnya dan kumainkan putingnya dengan lidahku.

Dalam posisi kemaluanku terbenam seluruhnya aku diam di atas tubuhnya, menciumi bibir, leher dan payudaranya serta menggerakkan otot kemaluan. Hasilnya luar biasa. Vera seperti orang yang mau menangis menahan kenikmatan hubungan ini. Vera mengimbanginya dengan kontraksi pada dinding vaginanya. Ia meringis dan memukul-mukul dadaku seperti histeris.

“Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Anto.. Nikmat.. Ooh”

Kini kakiku berada di luar kedua kakinya sehingga kedua kakiku menjepit kakinya. Masih tetap dalam posisi diam, hanya otot kemaluan yang bekerja. Ternyata vaginanya memang luar biasa, meskipun sudah becek namun cengkeramannya masih sangat ketat.

Aku menghentikan kontraksiku dan mulai menggenjot lagi. Vera seperti seekor kuda betina yang melonjak-lonjak tubuhnya dan sukar dikendalikan. Akhirnya tidak ada suara apapun di dalam kamar itu selain desah napas kami yang memburu beradu dengan suara paha bertemu dan derit ranjang. Keringat sudah membanjir di tubuh kami. Kupacu kuda binalku mendaki lereng terjal yang penuh kenikmatan. Kami saling memagut, mencium dan menjilat bagian tubuh lawan bergumul.

Kubuka lagi kedua kakinya, kini kakinya yang membelit pinggangku. Matanya kadang terpejam kadang terbeliak. Badannya seperti menggantung di tubuhku. Kini aku siap untuk menembakkan peluruku.

“Vera, sebentar lagi Ver.. Aku mau keluar”.
“Tungu sayang, kita sama-sama, tunggu..”.

.. Beberapa saat kemudian..

“Sekarang Ver sekarang.. Ouuhh” Aku mengejang ketika lahar kepuasan membersit dari kepundan kejantananku.
“Anto.. Agghh” kakinya menjepit kakiku dan mengejang sehingga kejantananku seperti tertarik mau keluar.

Aku tetap menahan agar kemaluanku tetap berada dalam vaginanya. Matanya terpejam, tangannya meremas rambutku, mulutnya menggigit dadaku. Kemaluan kami saling berdenyut sehingga kenikmatan puncak ini terasa sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi tenang.

“Luar biasa kamu To, Aku bisa tiga kali orgasme”
“Kamu juga hebat, empot ayammu membuat ketagihan”

Akhirnya kami membersihkan diri dan check out. Sebelum keluar kamar kami saling bertukar nomor telepon. Aku menumpang mobilnya sampai di Gatot Subroto dekat Hilton. Vera ke arah Blok M dan aku ke kawasan Jakarta Timur.

Beberapa hari kemudian di kantor aku dikejutkan suara operator yang nongol di ruanganku.

“Pak Anto ada telepon dari asuransi, line 2,” katanya.
“Thanks”.

Kuambil gagang telepon, “Hallo, siang” kataku.
“Hai Anto ingat aku?” terdengar suara dari seberang.
“Oh tentu, kuda binalku. Ada apa?”
“Kemarin habis nurunin kamu, ban mobilku kempes, untung ada yang nolongin”
“Habis kamu nyetirnya terlalu bernafsu, injak gas nggak kira-kira” kataku. Apa hubungannya gas dengan ban kempes ya?
“Nanti sore ketemu lagi ya. Aku sudah nggak sabar menanti hasil kerjamu”

Nanti sore kupikir boleh juga. Hari ini nggak banyak pekerjaan kok. Cerita kejadian nanti sore pikir dan bayangkan saja sendiri.